February 29, 2024
Products on a plate. Sumber: Polina Kovaleva from pexels.com

Products on a plate. Sumber: Polina Kovaleva from pexels.com

Teman-teman pasti pernah mendengar atau membaca nama ‘retinol’ untuk skincare. Bisa dibilang, retinol adalah “dewanya skincare”. Namun, apa itu retinol? Apa keuntungan penggunaan retinol pada kulit? Dan, bagaimana retinol bekerja pada kulit?

Wanita di depan cermin. Sumber: KoolShooters from pexels.com
Wanita di depan cermin. Sumber: KoolShooters from pexels.com

Apa itu retinol?

Ada retinol dan ada retinoid. Nama keduanya mirip, tapi hati-hati! Mirip bukan berarti sama. Retinoid adalah sebutan untuk kelompok senyawa turunan vitamin A yang aktif secara biologis, sedangkan retinol adalah salah satu senyawa anggota retinoid generasi pertama. Retinol merupakan retinoid yang paling sering digunakan dalam sediaan kosmetik karena manfaatnya yang bagus untuk kulit.

Struktur kimia retinol. Sumber: commons.wikimedia.com
Struktur kimia retinol. Sumber: commons.wikimedia.com

Manfaat retinol bagi kulit

Gelar “dewanya skincare” tidak sembarangan disandang oleh retinol. Ia dikenal demikian karena berbagai efek luar biasa dari pemakaian rutin antara lain:

  • Memperlambat proses penuaan kulit
  • Mengobati acne
  • Menyamarkan tekstur pada kulit (bekas luka, kerutan, dll)
  • Membantu memudarkan skin discoloration (PIH, PIE)

Efek-efek itu bukan hanya sekedar klaim, tapi telah dibuktikan secara saintifik. Penelitian penggunaan asam trans-retinoat/tretinoin (salah satu anggota retinoid yang lain) untuk mengobati acne pertama kali dipublikasikan pada tahun 1943. Tretinoin telah digunakan secara meluas dalam dermatologi sejak tahun 1960-an, tapi potensinya untuk memperlambat proses penuaan kulit baru disadari pada tahun 1980-an.

In general, semakin besar efek terapeutik suatu zat, maka makin besar pula resiko efek sampingnya. Karena tretinoin merupakan retinoid yang paling bioaktif dan memiliki kemampuan yang tinggi untuk penetrasi ke kulit, maka resiko iritasinya pun lebih besar. Dengan mempertimbangkan faktor keamanan dan efikasinya, maka tretinoin dikategorikan sebagai obat keras, yang seharusnya tidak bisa langsung dibeli tanpa resep dokter.

Masuklah retinol ke dalam panggung formulasi kosmetik. Tidak seperti tretinoin, retinol tidak langsung aktif ketika diaplikasikan di kulit. Retinol harus dikonversi dulu menjadi retinal, kemudian menjadi asam trans-retinoat (tretinoin) terlebih dahulu dalam tubuh, sebelum bisa memberikan efek ke kulit. Jadi sebetulnya, retinol memiliki potensi yang relatif lebih rendah dibandingkan tretinoin.

Kabar baiknya, retinol memiliki efek iritasi yang lebih rendah. Karena profil safety yang lebih baik daripada tretinoin inilah retinol dapat menjadi pilihan zat aktif yang aman untuk dijual secara bebas (OTC / over the counter).

Bagaimana retinol bekerja pada kulit?

Retinol adalah senyawa yang larut dalam lemak sehingga relatif mudah untuk retinol menembus lapisan kulit hingga ke dermis.

Struktur anatomi kulit manusia. Sumber: iStock.com
Struktur anatomi kulit manusia. Sumber: iStock.com

Efek anti-aging dari retinol (dan retinoid lainnya) kebanyakan diatribusikan pada kemampuannya untuk meningkatkan cell turnover rate atau laju pembaruan sel. Inilah yang terjadi di lapisan epidermis. Selain meningkatkan laju pembaruan sel, retinol juga menguatkan fungsi proteksi dari epidermis dan mereduksi TEWL (transepidermal water loss) yaitu fenomena kehilangannya molekul air dari dalam kulit.

Di lapisan dermis, retinoid melindungi kolagen dari degradasi serta mendorong produksi kolagen baru dan asam hialuronat. Kedua proses ini penting dalam mempertahankan penampilan kulit yang kenyal, elastis, dan awet muda.

Retinol dapat digunakan untuk mengobati jerawat karena aktivitas anti komedogenik yang dimilikinya. Retinol dapat mengurangi produksi sebum oleh kelenjar sebasea serta meregulasi proses pelepasan sel kulit mati di dalam kelenjar sebasea sehingga menurunkan potensi terjadinya penyumbatan pori yang menjadi cikal bakal jerawat.

Terlebih, retinol dapat mengurangi diskolorasi pada kulit dengan mencegah menumpuknya melanin (senyawa pemberi warna kulit) pada lapisan epidermis serta menurunkan aktivitas sel penghasil melanin. Fakta bahwa retinol dapat mendorong produksi kolagen juga membuat retinol mampu membantu memperbaiki penampilan tekstur kulit yang memiliki bekas luka.

Tertarik untuk mencoba retinol?

Retinol merupakan “dewanya skincare” bukan karena gimmick belaka, tapi sudah didukung oleh berbagai bukti saintifik sejak tahun 1943. Namun, efeknya yang luar biasa datang beriringan dengan risiko iritasi yang tinggi sehingga penggunaannya harus diiringi dengan perawatan dasar kulit yang mumpuni. Penasaran bagaimana menggunakan retinol seoptimal mungkin? Simak artikel Miareveals selanjutnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *