July 12, 2024
https://www.pexels.com/photo/woman-applying-face-cream-8142199/

Woman Applying Face Cream. Sumber: Ron Lach from pexels.com

Retinol memang terlihat sangat menarik untuk menyelesaikan segala masalah kulit yang umum kita miliki. Namun, sebagaimana manusia tidak dapat hidup seorang diri, retinol (dan retinoid lainnya) pun perlu dukungan untuk bisa bekerja secara optimal. Fakta bahwa retinol dan retinoid lainnya memiliki risiko iritasi yang tinggi menjadi perhatian utama dalam usaha optimalisasinya. Dalam menggunakan retinol, penting untuk memperhatikan formulasi, basic skincare, dan cara penggunaannya.

Enkapsulasi adalah terobosan terbaru dalam formulasi retinol

Person Holding White Plastic Bottle. Sumber: Karolina Grabowska from pexels.com
Ilustrasi pelembab dengan encapsulated active ingredient. Sumber: Karolina Grabowska from pexels.com

Retinol memang relatif stabil di antara retinoid lainnya, tapi ia tetap merupakan zat aktif yang rawan mengalami kerusakan terutama jika dihadapi dengan paparan udara dan sinar matahari.

Fun fact: Tretinoin menjadi senyawa retinoid pilihan untuk dikembangkan sebagai obat pada tahun 1960-an karena lebih mudah distabilisasi di dalam formulasi dibanding retinol pada saat itu.

Teknologi terbaru untuk menstabilkan retinol di dalam suatu formulasi adalah dengan melakukan enkapsulasi. Itu berarti, retinol secara fisik dilindungi oleh molekul lain (biasanya polimer) agar terhindar dari paparan udara, sinar matahari, bahkan bahan lainnya di dalam formulasi. Jika zat aktif stabil di dalam produk, maka makin besar kemungkinan produk tersebut dapat bekerja efektif untuk masa simpan yang lebih lama.

Teknologi enkapsulasi juga memungkinkan controlled release retinol di dalam kulit. Kapsul retinol (encapsulated retinol) akan mempenetrasi kulit kemudian dari kapsul tersebut, retinol dilepaskan dalam kulit secara perlahan dalam jangka waktu tertentu. Dengan demikian, risiko iritasi juga dapat diturunkan. Formulasi yang menggunakan teknologi enkapsulasi dapat menjadi pilihan yang baik untuk teman-teman yang baru mau memulai retinol!

Optimalkan basic skincare-mu sebelum mulai menggunakan retinol!

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, retinol memiliki risiko iritasi yang lebih kecil dibanding tretinoin. Hal ini bukan berarti penggunaan retinol bebas dari risiko iritasi. Penting untuk memastikan kulit terhidrasi dan terlindungi dengan baik jika menggunakan retinol sebagai zat aktif.

Untuk retinol dapat bekerja, retinol harus mempenetrasi ke dalam kulit. Kulit yang terhidrasi dengan baik akan lebih mempermudah penetrasi retinol dan jauh lebih mudah self-recovery jika terjadi iritasi. Agar hasil kerja retinol tidak sia-sia, kulit juga harus dilindungi dari paparan sinar UV dengan penggunaan sunscreen. Maka dari itu, gunakan pelembab andalanmu dan selalu rajin gunakan sunscreen setiap pagi!

Jangan sembarangan digabung dengan bahan aktif lain!

Photo by Polina Kovaleva: https://www.pexels.com/photo/cosmetic-containers-on-a-gray-textile-8101513/
Ilustrasi serum retinol. Sumber: Polina Kovaleva from pexels.com

Terutama untuk para pemula, tidak dianjurkan untuk menggunakan retinol bersamaan dengan zat aktif yang bersifat eksfoliasi, seperti glycolic acid, lactic acid. Hal ini berhubungan dengan tingginya risiko iritasi pada kulit ketika zat-zat aktif yang bersifat iritan tersebut digabung.

Sebaiknya, retinol dipasangkan dengan bahan yang dapat menghidrasi dan menjaga kelembaban kulit seperti asam hialuronat, gliserin, dan ceramide.

Aplikasikan retinol pada kulit yang bersih dan kering

Kelembaban kulit harus dijaga untuk melindungi kulit dari iritasi akibat penggunaan retinol. Hal ini BUKAN berarti anjuran untuk menggunakan retinol langsung di atas kulit yang masih basah! Sebaliknya, kulit harus bersih dan kering. Kering disini maksudnya bukan dehydrated skin / dry skin ya! Tapi lebih ke arah tidak ada basah-basah karena masih ada bekas air gitu!

Retinol merupakan zat aktif yang akan lebih mudah terpenetrasi jika tidak ada barrier berupa air di atas kulit. Jadi, lebih tepat jika teman-teman mengaplikasikan retinol di atas kulit yang sudah kering, kemudian setelah retinol menyerap, baru aplikasikan pelembab!

Perlu kesabaran besar saat mulai menggunakan retinol

Photo by EKATERINA  BOLOVTSOVA: https://www.pexels.com/photo/woman-in-white-head-towel-applying-skin-care-on-her-face-4672600/
Ilustrasi seorang wanita sedang menggunakan retinol. Sumber: Ekaterina Bolovtsova from pexels.com

Terakhir, jangan tergesa-gesa saat memulai menggunakan retinol. Mulailah perlahan dari konsentrasi rendah terlebih dahulu untuk meminimalkan iritasi yang timbul saat kulit beradaptasi dengan penggunaan retinol. Saran gue, teman-teman bisa coba dari retinol 1% dulu selama 2 minggu, lalu perlahan ditingkatkan konsentrasinya tiap 2 minggu JIKA memang respon kulitnya bagus (minim iritasi).

Dari segi frekuensi, baiknya gunakan retinol 1-2 kali dalam seminggu, kemudian tambah frekuensinya menjadi 3 kali seminggu jika dirasa aman bagi kulit. Pada dasarnya, kulit harus selalu terasa nyaman selama penggunaan retinol.

Jika mulai terasa ketidaknyamanan dalam bentuk rasa panas, gatal, kulit memerah, atau bahkan timbul bruntusan, artinya timbul reaksi iritasi dan penggunaan retinol harus dihentikan untuk sementara.

Remember to believe in the process! Jangan karena mau hasil yang instan, pemakaian retinolnya malah jadi berlebihan ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *