June 16, 2024
Wajah kencang dan bebas kerutan. Sumber: pexels.com.

Wajah kencang dan bebas kerutan. Sumber: pexels.com.

Teman-teman pernah dengar yang namanya botox? Treatment ini sudah tidak asing lagi di dunia kecantikan. Botox merupakan salah satu treatment andalan para seleb untuk menjaga wajah tetap kencang, bebas kerutan, dan membentuk wajah yang simetris. Di artikel kali ini, gue akan membahas serba-serbi treatment botox, mulai dari definisi, merk botox yang ada di pasaran, cara kerja, dosis, termasuk efek samping dan resiko komplikasinya! Komplit banget kan? Nah, buat kamu yang tertarik botox, jangan sampai skip ya!

Pengertian botox

Kalau bicara tentang Botox, bisa ada 3 hal yang dimaksud. 

  1. Botox adalah istilah untuk treatment kecantikan yang menggunakan injeksi atau suntikan berisi botulinum toxin ke otot-otot tertentu pada wajah, yang bertujuan untuk mengencangkan otot wajah tersebut dan mengurangi penampakan kerutan (facial lines) di wajah. Saat konsultasi ke dokter kulit atau saat casual conversation dengan teman, istilah Botox biasa dipakai misalnya dalam kalimat berikut, “Dok, saya tertarik untuk di-Botox nih!”.
  2. Botox® adalah brand name dari onabotulinum toxin A, yang diproduksi oleh Allergan, perusahaan farmasi Amerika Serikat. Botox® merupakan pionir, alias yang pertama kali mempelopori penggunaan obat berisi botulinum toxin. Oh iya, sebetulnya di Amerika itu merk Botox® adalah untuk indikasi medis. Sedangkan untuk perawatan anti-wrinkles, dibuatlah produk sejenis, tapi merk-nya menjadi Botox Cosmetic®. Isinya essentially similar, namun dibedakan di merk-nya biar lebih jelas peruntukannya dan bisa tidaknya diklaim asuransi. Kalau treatment-nya menggunakan Botox Cosmetic® itu pasti termasuk dalam treatment kecantikan, sehingga tidak di-cover asuransi kesehatan.
  3. Botox adalah istilah untuk berbagai obat-obatan yang mengandung botulinum toxin. Baik itu:
    • Botulinum toxin tipe A atau tipe B (atau tipe lainnya),
    • Produk botulinum toxin yang diproduksi oleh Allergan atau perusahaan lain,
    • Produk botulinum toxin yang berisi onabotulinum toxin A (Botox®) atau varian lainnya.

Sebetulnya, selain untuk kecantikan, botox juga dipakai dalam terapi medis. Treatment botox bisa saja menggunakan produk merk Botox®, atau menggunakan merk lain yang sama-sama mengandung botulinum toxin.

Produk botox kecantikan yang ada di pasaran

Di Amerika, ada 4 merk botox yang populer, yaitu Botox®, Xeomin®, Dysport®, Myobloc®. Nah, kalau di Indonesia, ada 4 merk produk botulinum toxin yang secara resmi memiliki izin edar dari BPOM, yaitu Botox®, Xeomin®, Nabota®, Lanzox®. Di bawah ini, gue tampilkan screenshot dari Cek Produk BPOM mengenai daftar produk botox dengan izin edar yang masih berlaku.

Daftar Produk Botulinum Toxin Terdaftar di BPOM, diakses tanggal 17 April 2022 - miareveals.com
Daftar Produk Botulinum Toxin Terdaftar di BPOM, diakses tanggal 17 April 2022. Klik pada gambar untuk ukuran gambar yang lebih besar.

Setiap produk di atas mengandung botulinum toxin A. Perbedaan utama dari keempat produk tersebut adalah dari segi formulasinya.

Perbandingan Produk Botox di Indonesia. Copyright of Miareveals.com
Perbandingan Produk Botox di Indonesia. Copyright of Miareveals.com

Meskipun semua produk tersebut mengandung botulinum toksin tipe A, tetapi keempat produk tersebut memiliki potensi atau efektivitas yang berbeda. Pada tahun 2009, FDA memberikan nama untuk tiga produk botulinum toksin tipe A yang saat itu beredar di USA, yaitu ONAbotulinumtoxinA untuk Botox®, ABObotulinumtoxinA untuk Dysport®, dan INCObotulinumtoxin A untuk Xeomin®. Hal ini dilakukan untuk menekankan bahwa tiap produk tersebut unik karena memiliki formulasi yang berbeda, tidak biosimilar, dan tidak saling menggantikan. Praktek tersebut berlaku juga untuk produk botox lainnya.

Balik lagi ke tabel di atas, tiga produk botulinum toksin A diformulasikan dalam bentuk kompleks. Pada Botox®, Nabota®, dan Lanzox®, botulinum toksin A membentuk kompleks dengan neurotoxin associated proteins / nontoxic accessory proteins (NAPs). NAPs merupakan protein yang tidak memiliki efek toksin, yang secara natural berfungsi sebagai chaperone untuk menstabilkan dan memproteksi botulinum toksin A tersebut. Akan tetapi, fungsi NAPs dalam formulasi tidak diketahui dengan jelas. Hanya Xeomin® yang isinya berupa toksin yang telah dimurnikan, tanpa adanya protein aksesoris (NAPs).

Selain mengandung botulinum toksin A, semua produk botox yang beredar mengandung beberapa bahan tambahan. Fungsi bahan tambahan ini adalah sebagai bulking agent, emulsifier atau surfaktan, serta membantu menstabilkan botulinum toksin A pada saat proses pembuatan produk, misalnya saat proses spray-drying atau freeze-drying.

Perbedaan-perbedaan terkait formulasi inilah yang menyebabkan potensi (efektivitas), dosis, petunjuk penggunaan, serta penyimpanan masing-masing produk berbeda antara satu sama lain.

Kesetaraan potensi dan dosis produk botox

Sebelum gue jelaskan bagian ini, gue tekankan bahwa semua produk botox hanya boleh digunakan oleh tenaga kesehatan profesional. Bukan beli botox sendiri, terus minta tolong non-profesional untuk bantu injeksikan atau bahkan suntik sendiri! Ga boleh lho ya, bahaya kalau sampai komplikasi!

Oke, terkait kesetaraan potensi, pertanyaan yang sering muncul adalah apakah sesama produk botox dapat saling menggantikan? Artinya, ketika kamu sudah biasa menggunakan Botox®, apakah boleh diganti dengan Xeomin® dalam jumlah yang sama?

Seperti yang sudah gue singgung sebelumnya, keempat produk tersebut tidak dapat saling menggantikan. Artinya, dosis atau UNIT dosis dari masing-masing produk tidak dapat disamakan. Kalau untuk kerutan di dahi butuh 30 unit Botox®, mungkin saja jika produknya bukan Botox® maka jadi butuh 40 unit. Mengapa? Karena jumlah toksin yang terkandung dalam setiap unit produk, itu berbeda-beda. Tiap produsen botox juga menggunakan metode yang berbeda untuk menentukan potensi produknya.

Meskipun demikian, banyak penelitian yang mencoba untuk menentukan ekivalensi atau kesetaraan dosis antar produk-produk botox. Hingga saat ini, tidak ada pedoman yang jelas dan diterima secara universal. Akan tetapi, dalam prakteknya, penggantian produk mungkin dilakukan sesuai justifikasi, keahlian dan pengalaman klinis dari tenaga medis / dokter kulit terkait.

Untuk dosis botox sendiri, balik lagi ya tergantung merk yang dipakai. Tiap merk pastinya secara reguler mengadakan yang namanya training atau conference untuk memperkenalkan produknya ke tenaga medis profesional. Nah, ketika training tersebut, tentu ada materi mengenai dosis dan lokasi injeksi botox untuk tiap jenis kerutan.

Selain itu, di brosur produk (product information / PI) juga biasanya terdapat informasi terkait dosis dan cara penggunaan. Contohnya adalah di brosur Botox® Cosmetic berikut ini. Tenaga medis profesional dapat saja menyesuaikan dosis berdasarkan pengalaman klinis mereka dalam memberikan treatment botox.

Dosis dan petunjuk penyuntikan Botox® Cosmetic. Sumber: brosur / product information Botox® Cosmetic.
Dosis dan petunjuk penyuntikan Botox® Cosmetic. Sumber: brosur / product information Botox® Cosmetic. Klik pada gambar untuk ukuran gambar yang lebih besar.

Cara kerja dan manfaat botox di dunia kecantikan

Botox bertugas merelaksasi otot sehingga tampilan kerutan berkurang. Cara kerja spesifiknya adalah sebagai berikut:

  • Botox memblok keluarnya asetilkolin (sebuah neurotransmiter yang bertugas memberikan sinyal bagi otot untuk berkontraksi) di daerah neuromuscular junction (persambungan antara sel saraf dengan sel otot)
  • Otot di sekitar neuromuscular junction yang disuntikkan botox kemudian mengalami paralisis selama 24 jam s.d. 2 minggu ke depan
  • Efek paralisis lokal tersebut akan bertahan selama 3-4 bulan (bahkan bisa 6 bulan), dan secara facial appearance, kerutan di wajah pun berkurang
Seorang wanita sedang disuntik botox di dahi. Sumber: pexels.com.
Seorang wanita sedang disuntik botox di dahi. Sumber: pexels.com.

Awalnya botox digunakan untuk indikasi medis yang berhubungan dengan kontraksi otot yang berlebihan. Contohnya adalah strabismus (mata juling) dan pencegahan migrain kronis. Namun, seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan praktek klinis, efek relaksasi otot yang dihasilkan botox turut diaplikasikan untuk mengatasi kerutan wajah.

Komplikasi dan efek samping

Secara umum, produk-produk botox yang sudah resmi memiliki izin edar dapat ditoleransi dengan baik oleh tubuh, asalkan diberikan dengan dosis dan cara pemberian yang tepat. Efek samping yang umum terjadi adalah rasa tidak nyaman dan kelemahan otot pada area penyuntikan, gejala flu, serta mulut kering. Pendarahan minor dan memar juga mungkin muncul di area penyuntikan. Meskipun jarang terjadi, efek samping sistemik mungkin muncul, seperti kelemahan otot, gangguan penglihatan, dan gangguan pencernaan.

Sementara itu, komplikasi medis atau hasil yang tidak diharapkan akibat botox adalah ketidaksimetrisan wajah. Misalnya, kelopak mata yang satu lebih turun dibanding kelopak mata yang lain, atau salah satu alis lebih tinggi dibanding alis lain.

Contoh komplikasi botox. Sumber: Niamtu, J (2009). Complications in Fillers and Botox.
Contoh komplikasi botox. Sumber: Niamtu, J (2009). Complications in Fillers and Botox.

Maka dari itu sebelum botox, penting sekali untuk berkonsultasi dengan dokter kulit di klinik kecantikan terpercaya. Teman-teman bisa proaktif menanyakan terkait efek samping dan komplikasi botox, bagaimana agar resiko komplikasi dapat diminimalkan, dan bagaimana pengalaman dokter tersebut menangani kasus komplikasi botox (jika pernah).

Oke, teman-teman itu tadi introduction terkait botox. Buat yang masih penasaran dengan botox, tapi takut mencobanya, klik link berikut ya! Ada review jujur gue terkait botox dan hal-hal yang harus kamu ketahui sebelum melakukan botox. Kalau mau diskusi atau cerita tentang botox, feel free to comment. Siapa tahu, ada orang lain yang terbantu juga nih dengan pertanyaan atau cerita kamu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *