June 16, 2024
Photo by Juan Pablo Serrano Arenas: https://www.pexels.com/photo/person-touching-hand-1242349/

Healthy skin. Sumber: Juan Pablo Serrano Arenas from pexels.com

Sebelumnya, kita telah mempelajari bahwa kulit dibagi menjadi 3 lapisan utama, yaitu epidermis, dermis, dan hipodermis. Epidermis adalah lapisan terluar kulit yang utamanya terbentuk dari sel epitel bernama keratinosit. Sebagai lapisan terluar, epidermis melaksanakan fungsi barrier kulit. Struktur epidermis mencegah senyawa dan mikroba dari lingkungan masuk ke dalam tubuh, juga mencegah air (kelembaban) keluar dari dalam tubuh.

Epidermis terdiri dari banyak lapisan

Sebagai benteng terkuat, epidermis terbangun oleh “batu bata” yang banyak, tebal, dan rapat. Tentunya, keratinosit merupakan “batu bata” pembangun epidermis. Keratinosit bertumpuk-tumpuk dan membentuk 5 lapisan pada epidermis, masing-masing dengan karakteristiknya tersendiri. Kelima lapisan tersebut, dari lapisan terdalam, adalah stratum basale, stratum spinosum, stratum granulosum, stratum lucidum, dan stratum corneum.

Lapisan-lapisan dalam epidermis. Sumber: wikipedia.com

Lapisan epidermis terbentuk dari pembelahan dan diferensiasi keratinosit

Kelima lapisan epidermis sesungguhnya terbentuk dari keratinosit yang semakin terdorong ke permukaan tubuh oleh sel-sel baru di bawahnya. Dalam perjalanannya menuju permukaan, keratinosit mengalami diferensiasi. Diferensiasi keratinosit (disebut juga keratinisasi) adalah sebuah proses rumit perubahan bentuk (morfologi) dan proses metabolisme keratinosit yang diprogram rinci secara genetik. Sesuai namanya, perubahan keratinosit diakibatkan oleh penambahan kadar keratin di dalam masing-masing sel. Hasil akhir keratinisasi adalah keratinosit yang mati (disebut korneosit), berisi keratin dan protein-protein khusus, serta dikelilingi lipid yang merapatkan stratum korneum.

Diferensiasi keratinosit dimulai dari lapisan terdalam (stratum basale) dan berakhir pada lapisan terluar (stratum korneum):

Stratum Basale

Stratum basale tersusun oleh keratinosit yang aktif membelah diri. Dari stratum basale lah sel kulit secara terus menerus diperbaharui, mendorong sel pendahulunya menuju permukaan.

Sebagai lapisan epidermis terdalam yang memiliki kontak langsung dengan dermis, stratum basale menerima nutrisi paling banyak. Jika teman-teman memperhatikan gambar struktur kulit, tidak ada pembuluh darah di dalam lapisan epidermis. Keratinosit pada epidermis bergantung pada difusi dari dermis untuk memperoleh nutrisi.

Stratum Spinosum

Keratinosit pada stratum spinosum mulai mengalami penyusutan, tapi sebagian darinya masih mampu membelah diri. Pada lapisan ini, keratinosit mulai membentuk lamellar granules (disebut juga lamellar bodies), yaitu kapsul-kapsul kecil (0,2×0,3 μm) berisi prekursor lipid dan berbagai enzim. Isi dari lamellar granules tidak akan dikeluarkan hingga keratinosit mencapai stratum granulosum.

Selain keratinosit, terdapat sel darah putih khusus bernama sel Langerhans di dalam stratum spinosum. Sel Langerhans adalah sel fagositik, yaitu sel yang mampu “memakan” kuman untuk melindungi tubuh dari infeksi.

Stratum Granulosum

Keratinosit yang mencapai stratum granulosum telah berhenti membelah diri dan mulai memproduksi keratin dalam skala besar. Akibatnya, sel pun mati dan semakin memipih serta mengeras.

Lapisan ini dinamai granulosum karena keratin penyusunnya memiliki banyak lamellar granules di dalamnya. Lamellar granules kemudian bergerak ke perbatasan stratum granulosum dengan stratum korneum dan mengeluarkan isinya ke ruang antarsel stratum korneum. Lipid dan enzim yang keluar pun bereaksi dan membentuk matriks lipid yang rapat di antara sel-sel stratum korneum.

Stratum Lucidum

Lucidum artinya jernih. Sesuai namanya, stratum lucidum merupakan lapisan yang tampak bening. Stratum lucidum hanya dapat ditemui pada area kulit yang disebut thick skin, yakni pada telapak tangan dan kaki.

Stratum Corneum

Diferensiasi keratinosit berakhir di stratum corneum. Keratinosit pada stratum korneum kini telah mati dan tidak memiliki inti sel. Keratinosit yang telah mati disebut sebagai korneosit. Korneosit dipenuhi keratin serta memiliki lapisan protein khusus di bawah membran selnya, sehingga bersifat kuat dan tidak mudah rusak. Terlebih, susunan korneosit bertumpuk dengan rapat. Ruang antar korneosit diisi oleh lipid (ceramide, kolesterol, dan asam lemak). Susunan ini menciptakan lapisan erat yang sulit ditembus, baik dari luar maupun dari dalam.

Stratum Corneum dikenal sebagai skin barrier

Fungsi barrier kulit utamanya merupakan tanggung jawab dari Stratum Corneum sebagai lapisan terluar dan terapat dari epidermis. Maka dari itu, Stratum Corneum disebut juga sebagai skin barrier. Skin barrier menghalangi secara fisik masuknya benda-benda asing ke dalam tubuh, juga menghalangi hilangnya air berlebih dari dalam tubuh melalui transepidermal water loss (TEWL). Kerja skin barrier sesungguhnya lebih rumit dari sekedar penghalang fisik, tapi melibatkan aksi biokimia juga.

Pada artikel berikutnya, kita akan membahas lebih dalam perihal skin barrier yang menjadi kunci untuk kesehatan kulit!

Diagram fungsi epidermis sebagai barrier. Sumber: Goldsmith LA, dkk. (2012). Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine 8th Ed. p. 486

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *